Jumat, 04 November 2016

sejarah linguistik



NAMA                           : SANIA PARADILA
NIM                               :1610116120015



A.    Sejarah linguistik

1.      Perkembangan linguistic periode awal
Zaman india

 Bahasa dipelajari orang untuk tujuan ritual, artinya bahasa atau bunyi-bunyi bahasa (Sanskerta) dipelajari dengan seksama bukan untuk mengetahui hakikat bahasa, tetapi agar dapat mengucapkan doa-doa  dalam buku-buku weda secara lebih baik sehingga permintaan terhadap dewa akan terkabul.
Pada masa ini (th 400 SM) telah disusun secara lengkap buku tata bahasa Sanskerta oleh Panini, seorang sarjana Hindu, yang prinsip-prinsip dan gagasan-gagasannya masih dipakai dalam linguistik moderen.
zaman yunani
zaman romawi
zaman pertengahan
zaman renaisans
 

2.      perkembangan linguistik pada periode perkembangan
Abad ke-18 dan abad ke-19 dapat dikatakan bahwa tidak ada perkembangan ilmu bahasa yang perlu diperhatikan karna seluruh waktu tidak lain berkuasanya ilmu bahasa klasik, normatif, bahasa perskriptif. Kemudian pengumpulan bahasa dari berbagai daerah dan negeri menjadi suatu percobaan dan terkenalah dalam hal ini pengumpulan P.S. Fallas, yang berhasil mengumpulkan contoh dari 200 bahasa Eropa dan Asia(1786-1787).
Lorenzo Hervas Y. Panduro mengumpulkan contoh 300 bahasa Eropa, Asia, dan Amerika(1800-1805). Orang ketiga yang terkenal oleh pengumpulan semacam ini adalah Johann Chripstoph Adelung dengan pengumpulannya diberi nama Mithriadates(1806-1817). Orang tergila-gila dengan perbandingan bahasa, sarjana-sarjana Eropa mempelajari bahasa Sangsekerta dan membandingkannya dengan bahasa Latin, Yunani kuno, dengan bahasa-bahasa eropa lain. Ahli-ahli seperti Scheigel, Frans Bopp, dan Rasmus Bask menuliskan pertama kali perbandingan bahasa sansekerta dengan bahasa Latin, Yunani kuno, dan bahasa lain.
Sarjana Jerman Jacob Ludwig Karl Grimm menuliskan Deuth Grammatic, 1819 (tata bahasa Jermania) yang merupakan karya luar biasa. Di dalam buku Grimm menunjukan persamaan bahasa Jermania oleh persesuaian-persesuaian yang teratur. Persesuaian itu disebabkan oleh terjadinya “Pergeseran bunyi” (Saound Shiff) pada dialek-dialek bahasa induk yaitu bahasa Proto Indo-Eropa, kemudian masing-masing mengikuti perkembangan sendiri-sendiri serta menjadi bahasa-bahasa sendiri.
Akhir abad ke 19 ditandai adanya perkembangan fonetik yang berlebih-lebihan (dibandingkan dengan perkembangan fonetik pada abad ke-20)  karena pada akhir abad ke-19 masih dihinggapi pikiran Griko-latinisme yang bersifat klasik, tradisional, normatif, dan presskriptif.

3.      perkembangan linguistik pada periode pembaharuan
Dimulai setelah perang dunia pertama ilmu bahasa mengalami perubahan. Bunyi bahasa juga dipengaruhi dari buku Ferdinand de Saussure, seorang ahli bahasa, Nikolai S. Trabetakoy (1890-1983), mengadakan penyelidikan mendalam. Bunyi (p) pada awal kata para dengan bunyi-bunyi pada kata tara, cara, kara, bara, dara, jara dan mara, dapat dikatakan bahwa bunyi (p) dalam kara, para mempunyai fungsi membedakan kata.  Bunyi-bunyi semacam ini disebut Fonem. Prinsip-prinsip Madzhab disajikan kepada dunia ilmu bahasa pada Kongres Bahasa pertama di den Haag tahun 1928.
Perkembangan linguistik struktural di Amerika dipelopori oleh Franz Boas, Edward Sapir, dan Leonard Bloomfield. Boas dan Sapir lebih berorientasikan pada Antropologi, sedangkan Bloomfield pada keinginan untuk “mengilmiahkan” linguistik atau bahasa. Tiga ahli bahasa Amerika disebut sebagai pemula kegiatan penyelidikan bahasa sebelum terbitnya sintantic structure ialah Franz Boas, Edward Sapir, dan Leonard Blomfield.
Ahli bahasa di Amerika Serikat banyak bejasa dalam menyebar luaskan prinsip-prinsip dan metode yang dihubungkan dengan nama “strukturalisme Amerika” ialah Leonard Bloomfield (1887-1949). Tahun 1914 Bloomfield menerbitkan buku An Intriduction to Linguistique Science.
Bloomfield menyatakan pandangan, yaitu “rangsangan dan tanggapan” dinyatakan dengan formula( R  t. . .  T. )Suatu rangsangan praktiks (R) menyebab seseorang
Priode pembaruan ditandai dengan ketidak puasan pendekatan tradisional, tokoh-tokoh seperti: NS  Trubetzkoy, Roman Jokobsin, sebagai peletak awal teori struktural, kemudian dilanjutkan oleh ahli-ahli lain Franz Boas, Edward Sapir, Ferdinand de saussure, Kennenth L. Pike, Bloomfield, Hockett, Gleason, Hills, M. Joas, Chomsky, McCawley, Lakoff, Fillmore.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar