NAMA : SANIA PARADILA
NIM :1610116120015
A. Sejarah linguistik
1. Perkembangan linguistic periode awal
Zaman
india
Bahasa dipelajari orang untuk tujuan ritual,
artinya bahasa atau bunyi-bunyi bahasa (Sanskerta) dipelajari dengan seksama
bukan untuk mengetahui hakikat bahasa, tetapi agar dapat mengucapkan
doa-doa dalam buku-buku weda secara lebih baik sehingga permintaan
terhadap dewa akan terkabul.
Pada masa ini (th 400 SM) telah disusun
secara lengkap buku tata bahasa Sanskerta oleh Panini, seorang sarjana Hindu, yang prinsip-prinsip dan
gagasan-gagasannya masih dipakai dalam linguistik moderen.
zaman yunani
zaman romawi
zaman pertengahan
zaman renaisans
2. perkembangan linguistik pada periode
perkembangan
Abad ke-18
dan abad ke-19 dapat dikatakan bahwa tidak ada perkembangan ilmu bahasa yang
perlu diperhatikan karna seluruh waktu tidak lain berkuasanya ilmu bahasa
klasik, normatif, bahasa perskriptif. Kemudian pengumpulan bahasa dari berbagai
daerah dan negeri menjadi suatu percobaan dan terkenalah dalam hal ini
pengumpulan P.S. Fallas, yang berhasil mengumpulkan contoh dari 200 bahasa
Eropa dan Asia(1786-1787).
Lorenzo
Hervas Y. Panduro mengumpulkan contoh 300 bahasa Eropa, Asia, dan
Amerika(1800-1805). Orang ketiga yang terkenal oleh pengumpulan semacam ini
adalah Johann Chripstoph Adelung dengan pengumpulannya diberi nama
Mithriadates(1806-1817). Orang tergila-gila dengan perbandingan bahasa,
sarjana-sarjana Eropa mempelajari bahasa Sangsekerta dan membandingkannya
dengan bahasa Latin, Yunani kuno, dengan bahasa-bahasa eropa lain. Ahli-ahli
seperti Scheigel, Frans Bopp, dan Rasmus Bask menuliskan pertama kali
perbandingan bahasa sansekerta dengan bahasa Latin, Yunani kuno, dan bahasa
lain.
Sarjana
Jerman Jacob Ludwig Karl Grimm menuliskan Deuth Grammatic, 1819 (tata bahasa
Jermania) yang merupakan karya luar biasa. Di dalam buku Grimm menunjukan
persamaan bahasa Jermania oleh persesuaian-persesuaian yang teratur.
Persesuaian itu disebabkan oleh terjadinya “Pergeseran bunyi” (Saound Shiff)
pada dialek-dialek bahasa induk yaitu bahasa Proto Indo-Eropa, kemudian
masing-masing mengikuti perkembangan sendiri-sendiri serta menjadi
bahasa-bahasa sendiri.
Akhir abad
ke 19 ditandai adanya perkembangan fonetik yang berlebih-lebihan (dibandingkan
dengan perkembangan fonetik pada abad ke-20) karena pada akhir abad ke-19
masih dihinggapi pikiran Griko-latinisme yang bersifat klasik, tradisional,
normatif, dan presskriptif.
3. perkembangan linguistik pada periode
pembaharuan
Dimulai
setelah perang dunia pertama ilmu bahasa mengalami perubahan. Bunyi bahasa juga
dipengaruhi dari buku Ferdinand de Saussure, seorang ahli bahasa, Nikolai S.
Trabetakoy (1890-1983), mengadakan penyelidikan mendalam. Bunyi (p) pada awal
kata para dengan bunyi-bunyi pada kata tara, cara, kara, bara, dara,
jara dan mara, dapat dikatakan bahwa bunyi (p) dalam kara, para
mempunyai fungsi membedakan kata. Bunyi-bunyi semacam ini disebut Fonem.
Prinsip-prinsip Madzhab disajikan kepada dunia ilmu bahasa pada Kongres
Bahasa pertama di den Haag tahun 1928.
Perkembangan
linguistik struktural di Amerika dipelopori oleh Franz Boas, Edward Sapir, dan
Leonard Bloomfield. Boas dan Sapir lebih berorientasikan pada Antropologi,
sedangkan Bloomfield pada keinginan untuk “mengilmiahkan” linguistik atau
bahasa. Tiga ahli bahasa Amerika disebut sebagai pemula kegiatan penyelidikan
bahasa sebelum terbitnya sintantic structure ialah Franz Boas, Edward
Sapir, dan Leonard Blomfield.
Ahli
bahasa di Amerika Serikat banyak bejasa dalam menyebar luaskan prinsip-prinsip
dan metode yang dihubungkan dengan nama “strukturalisme Amerika” ialah
Leonard Bloomfield (1887-1949). Tahun 1914 Bloomfield menerbitkan buku An
Intriduction to Linguistique Science.
Bloomfield
menyatakan pandangan, yaitu “rangsangan dan tanggapan” dinyatakan dengan
formula( R t. . . T. )Suatu rangsangan praktiks (R) menyebab
seseorang
Priode
pembaruan ditandai dengan ketidak puasan pendekatan tradisional, tokoh-tokoh
seperti: NS Trubetzkoy, Roman Jokobsin, sebagai peletak awal teori
struktural, kemudian dilanjutkan oleh ahli-ahli lain Franz Boas, Edward Sapir,
Ferdinand de saussure, Kennenth L. Pike, Bloomfield, Hockett, Gleason, Hills,
M. Joas, Chomsky, McCawley, Lakoff, Fillmore.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar