Jumat, 04 November 2016

makalah fonologi



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Bahasa adalah suatu sistem lambang bunyi yang dipakai manusia untuk tujuan komunikasi. Oleh karena itu pengajaran Bahasa Indonesia pada hakekatnya mempunyai ruang lingkup dan tujuan yang menumbuhkan kemampuan mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar agar seseorang dapat berkomunikasi dengan baik dan benar.
Banyak kajian teori mengenai bahasa ini. Salah satunya kajian tentang fonologi. Sebagai calon pendidik selayaknya memahami kajian tentang fonologi ini untuk dijadikan pedoman mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia. Penulis merasa perlu untuk menyusun  makalah ini agar dapat membantu penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya untuk mengetahui tentang batasan dan kajian fonologi, beberapa pengetian mengenai tata bunyi, kajian fonetik, kajian fonemik.
                                                                                                
B.       Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalahnya, yaitu:
1.      Bagaimana pengertian fonologi menurut para ahli?
2.      Bagaimana kajian fonetik dalam fonologi?
3.      Bagaimana kajian fonemik dalam fonologi?
C.      Tujuan Penulisan
Adapun beberapa tujuan dalam penulisan makalah ini, yaitu:
1.      Menjelaskan pengertian fonologi menurut para ahli
2.      Menjelaskan kajian fonetik
3.      Menjelaskan kajian fonemik

BAB 2
PEMBAHASAN


FONOLOGI
 Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa, yang secara etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi, dan logi yaitu ilmu.
Berikut pengertian Fonologi menurut para ahli.
1)      Kridalaksana (2002) dalam kamus linguistik, fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya.
2)      Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1988:244), fonologi dimaknai sebagai  ilmu tentang bunyi bahasa, terutama yang mencakup sejarah dan teori perubahan bunyi.
3)      Abdul Chaer (2003:102), secara etimologi istilah “fonologi” ini dibentuk dari kata “fon” yang bermakna “bunyi” dan “logi”  yang berarti “ilmu”. Jadi, secara sederhana dapat dikatakan bahwa fonologi merupakan ilmu yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa pada umumnya.
4)      Verhaar (1984:36) mengatakan bahwa fonologi  merupakan bidang khusus dalam linguistik yang mengamati bunyi-bunyi suatu bahasa tertentu sesuai dengan  fungsinya untuk membedakan makna leksikal dalam suatu bahasa.
5)      Keraf,(1984: 30) Fonologi ialah bagian dari tata bahasa yang memperlajari bunyi-bunyi bahasa .
6)      Fromkin & Rodman (1998:96), fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa.
7)      Trubetzkoy (1962:11-12), fonologi merupakan studi bahasa yang berkenaan dengan sistem bahasa, organisasi bahasa, serta merupakan studi fungsi linguistis bahasa.
8)      Daniel Jones, Sarjana fonologi Inggris,Fonologi ialah sistem bunyi  sebuah bahasa.
Menurut hararki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik.
A.    FONETIK
Fonetik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembaca makna atau tidak. Menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, dibedakan ada tiga jenis fonetik, yaitu Fonetik artikulatoris, Fonetik akustik dan, Fonetik audiotoris
1)      Fonetik artikulatoris, di sebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis , mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan.
2)      Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa  sebagai pristiwa fasis atau fenomena alam. Bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi getarannya, amplitudonya, intensitasnya, dan timbrenya.
3)      Fonetik audiotoris mempelajarai bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.
Dari ketiga cabang fonetik tersebut yang paling berurusan dengan dunia lingistik adalah fonetik artikulatoris karena fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau di ucapkan manusia. Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika, dan fonetik audiotori berkenaan dengan bidang kedokteran.
 
Pada pembahasan kali ini kita akan membicarakan mengenai fonetik artikulatoris saja Karen cabang fonetik ini sebagian besar termasuk dalam bidang linguistic.
1.      Alat-alat ucap
Dalam fonetik artikulatoris hal pertama yang dibicarakan adalah alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa. Untuk bisa memahami bagaimana bunyi bahasa itu diproduksi dan nama-nama bunyi itupun di ambil dari nama-nama alat ucap itu.
Untuk mengenal alat-alat ucap itu perhatikan bagan berikut:


1)      Paru-paru (lung)
2)      Batang tenggorok (trachea)
3)      Pangkal tenggorokan (larynx)
4)      Pita suara (vocal cord)
5)      Krikoid (cricoid)
6)      Tiroid (thyroid)
7)      Aritenoid ( arythenoid)
8)      rongga kerongkongan (pharynx)
9)      Epiglotis (epilglotis)
10)  Akar lidah (root of the tongue)
11)  Pangkal lidah (back of the tongue, dorsum)
12)  Tengah lidah (middle of the tongue, medium)
13)  Daun lidah (blade of the tongue, laminum)
14)  Ujung lidah (tip of the tongue, apex)
15)  Anak tekak (ovula)
16)  Langit-langit lunak (soft palate, velum)
17)  Langit-langit keras (hard plate, palatum)
18)  Gusi, lengkung kaki gigi (alveolum)
19)  Gigi atas (upper teeth, dentum)
20)  Gigi bawah (lower teeth, dentum) 
21)  Bibir atas (upper lip, labium)
22)  Bibir bawah (lower lip, labium)
23)  Mulut (mouth)
24)  Rongga mulut (oral cavity)
25)  Rongga hidung (nasal cavity)
Bunyi-bunyi yang terjadi pada alat-alat ucap itu biasanya diberi nama sesuai dengan nama alat ucap itu. Berikut bentuk-bentk ajektif nama-nama yang sering muncul dalam studi fonetik.
2)  Batang tenggorok (trachea) - laringal
8)  rongga kerongkongan (pharynx) - faringal
11) Pangkal lidah (back of the tongue, dorsum) - dorsal
12) Tengah lidah (middle of the tongue, medium) - medial
13) Daun lidah (blade of the tongue, laminum) - laminal
14) Ujung lidah (tip of the tongue, apex) -apikal
15) Anak tekak (ovula) - uvular
16) Langit-langit lunak (soft palate, velum) -velar
17) Langit-langit keras (hard plate, palatum) - palata
18) Gusi, lengkung kaki gigi (alveolum) - alveolar
19)Gigi atas (upper teeth, dentum) - dental
20) Gigi bawah (lower teeth, dentum)  - labial

     Sesuai dengan bunyi bahasa itu di hasilkan, maka harus kita gabungkan istilah nama kedua alat ucap itu.
Misalnya, gabungan ujung lidah dan gigi ( huruf L) yaitu apikodental, gabungan bibir bawah dan gigi atas ( huruf F) labiodental dan gabungan daun lidah dan langit-langit keras (hurif D)  laminopalatal.

1.      Proses fonasi
Proses terbentuknya bunyi bahasa secara garis besarnya terbagi atas 4 macam, yakni:
1)      Proses keluarnya bunyi dari paru-paru,
2)      Proses fonasi, yaitu lewatnya bunyi dalam tenggorokan,
3)      Proses artikulasi yaitu proses terbentuknya bunyi oleh artikulator dan,
4)      Proses oro-nasal, proses keluarnya bunyi melalui mulut atau hidung
Terjadinya Bunyi:
1)      Sumber energi utama terjadinya bunyi bunyi bahasa adalah adanya udara dari paru-paru.
2)      Udara dihirup ke dalam paru-paru kemudian dihembuskan keluar bersama-sama waktu sedang bernapas.
3)      Udara yang dihembuskan (atau dihirup untuk sebagaian kecil bunyi bahasa) mendapat hambatan di berbagai tempat alat-alat bicara dengan berbagai cara sehingga terjadi bunyi bahasa.
4)      Tempat atau alat bicara yang dilewati diantaranya batang tenggorok, pangkal tenggorok, kerongkongan, rongga mulut, rongga hidung.
5)      Pada waktu udara mengalir keluar pita suara harus dalam keadaan terbuka.
6)      Jika udara tidak mengalami hambatan pada alat bicara, bunyi bahasa tidak akan terjadi.
7)      Syarat terjadinya bunyi bahasa secara garis besar

2.      Tulisan fonetik
Tulisa fonetik dibuat untuk keperluan studi fonetik, sesungguhnya dibuat berdasarkan huruf-huruf dari aksara latin, yang di tambah dengan sejumlah tanda diakritik dan sejumlah modifikasi terhadap huruf latin itu. Dalam tulisan fonetik setiap hruf atau lambang hanya digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa. Dalam studi linguistik dikenal adanya beberapa macam system tulisan dan ejaan, diantaranya:
·         tulisan fonetik untuk ejaan fonetik
·          tulisan fonemis untuk ejaan fonemis
·          system aksara tertentu untuk ejaan ortografis
Dalam studi linguistik dikenal dengan adanya tulisan fonetik dari International Phonetic Alphabet (IPA). 

dalam tulisan fonetik setiap bunyi baik yang segmental maupun yang suprasegmental dilambangkan secara akurat. Artinya, setiap bunyi mempunyai lambang-lambangnya sendiri, meskipun perbedaanya hanya sedikit, tetapi dalam tulisan fonemik haya perbedaan bunyi yang distingtif saja yakni yang membedakan makna, yang dibedakan lambangnya.
Contoh: kata [tahu], [tau], [teras] dan [t∂ras] akan bermakna lain. Sedangkan kata duduk dan didik ketika diucapkan secara bervariasi [dudU?], [dUdU?], [didī?], [dīdī?] tidak membedakan makna.

1.      Klasifikasi bunyi
Pada umumnya bunyi bahasa dibedakan atas vokal dan konsonan.
1)      Bunyi vokal
Bunyi vokal adalah bunyi yang arus udaranya tidak mengalami rintangan. Pada pembentukan vokal tidak ada artikulasi. Hambatan pada pita suara tidak lazim disebut artikulasi. Karena vokal dihasilkan dengan hambatan pita suara maka pita suara bergetar. Posisi glottis dalam keadaan tertutup, tetapi tidak rapat sekali. Dengan demikian, semua vokal termasuk bunyi bersuara.
Kualitasnya ditentukan oleh tiga faktor:
·         tinggi-rendahnya posisi lidah (tinggi, sedang, rendah)
·         bagian lidah yang dinaikkan (depan, tengah, belakang)
·         bentuk bibir pada pembentukan vokalitu (normal, bundar, lebar/terentan
posisi lidah bisa bersifat vartikal ataupun horizontal. Secara vartikal debedakan vokal tinggi misalnya bunyi [i] dan [u], vokal tengah misalnya bunyi [e] dan [ₔ] dan, vokal rendah misalnya bunyi [a].
secara horizontal dibedakan atas vokal vokal depan misalnya bunyi [i] dan [e], vakal pusat misalnya bunyi [ₔ] dan vokal belakang misalnya bunyi [u] dan [o].

2)      Bunyi diftong
Diftong adalah dua vokal yang diucapkan sekaligus. Dalam sistem tulisan diftong biasa dilambangkan oleh dua huruf vokal. Kedua huruf vokal itu tidak dapat dipisahkan. Bunyi [aw] pada kata "harimau" adalah diftong, sehingga [au] pada suku kata "mau" tidak dapat dipisahkan menjadi "ma-u" seperti pada kata "mau". Demikian pula halnya dengan deretan huruf vokal [ai] pada kata "sungai". Deretan huruf vokal itu melambangkan bunyi diftong [ay] yang merupakan inti suku kata "ngai".
Diftong berbeda dari deretan vokal. Tiap-tiap vokal pada deretan vokal mendapat hembusan napas yang sama atau hampir sama; kedua vokal itu termasuk dalam dua suku kata yang berbeda. 


1)      konsonan
konsonan adalah bunyi bahasa yang dibentuk dengan menghambat arus udara pada sebagian alat ucap. Dalam hal ini terjadi artikulasi. Proses hambatan atau artikulasi ini dapat disertai dengan bergetarnya pita suara, sehingga terbentuk bunyi konsonan bersuara. Jika artikulasi itu tidak disertai bergetarnya pita suara, glottis dalam keadaan terbuka akan menghasilkan konsonan tak bersuara. Kualitasnya ditentukan oleh tiga faktor:
·         keadaan pita suara (merapat atau merenggang – bersuara atau tak bersuara)
·         penyentuhan atau pendekatan berbagai alat ucap/artikulator (bibir, gigi, gusi, lidah, langit-langit)
·         cara alat ucap tersebut bersentuhan/berdekatan
berdasarkan tempat artikulasinya konsonan antara lain:
1)      bilabial terjadi pada kedua belah bibir. Bunyi yang termasuk konsonan bilabial adalah [b], [p], dan [m]. [b] dan [p] adalah bunyi oral yaitu dikeluarkan melalui rongga mulut, sedangkan [m] adalah bunyi nasal yatu bunyi yang dikeluarkan dari rongga hidung.
2)      Labiodental konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas. Yang termasuk labiobiyal yakni bunyi [f] dan [v]
3)      Laminoalveolar terjadi pada daun lidah yang menempel pada gusi yakni bunyi [t] dan [d].
4)      Dorsovelar terjadi pada pangkal lidah dan velum atau langi-langit lunak yakni bunyi [k] dan [g].
Berdasarkan cara artikulasinya, artinya bagaimana gangguan atau hambatan yang dilakukan terhadap arus udara itu antara lain:
1)      Hambat (letupan, plosive, stop), bunyi [p], [b], [t], [d], [k] dan [g].
2)      Geseran atau frikatif, bunyi [f], [s], [z].
3)      Paduan atau frikatif, bunyi [c] dan [d].
4)      Sengauan atau nasal, bunyi [m], [n] dan[Ƞ].
5)      Getaran atau trill, bunyi [r].
6)      Sampingan atau literal, bunyi [i]
7)      Hampiran atau aproksiman, bunyi [w] dan [y].
Berdasarkan posisi pita suara, tempat artikulasi dan cara artikulasi. 

Dapat kita buat peta konsonan sebagai berikut:
 
1.      Unsur suprasegmental
Disebut Suprasegmental karena suprasegmental adalah unsur yang ‘menemani’ dan memengaruhi bunyi bahasa, dan bukan bunyi sejati. karena bukan bunyi sejati itulah sehingga unsur tersebut dinamakan suprasegmental.Description: Hasil gambar untuk peta konsonan
Cara yang paling mudah untuk memahami unsur suprasegmental adalah melalui pendekatan fonetik akustik. Ada dua sifat akustik yang berpengaruh dalam unsur suprasegmental yaitu frekuensi dan amplitudo. Kedua unsur ini sangat berpengaruh dalam unsur suprasegmental yang sangat berkaitan.
a)       Tekanan ialah ucapan yang ditekankan pada suku kata atau kata sehingga bagian tersebut tampak lebih keras atau menonjol dari suku kata atau kata yang lain. Ketika mengucapkan suatu kalimat yang didalamnya terdapat kata yang penting biasanya kita akan menekan suku kata atau kata tersebut agar lawan tutur memahaminya dengan benar. Tekanan biasa juga di sebut aksen.
Perhatika contoh tekanan kalimat yang ditandai kata bercetak tebal miring di bawah ini.
1)      Ternyata Rizki berhasil menjadi juara I lomba KIR kemarin, Din. (bukan Anton)
2)      Ternyata Rizki berhasil menjadi juara I lomba KIR kemarin, Din. (bukan juara II)
3)      Ternyata Rizki berhasil menjadi juara I lomba KIR kemarin, Din. (bukan lomba baca puisi)
b)      Nada atau intonasi
Dalam bahasa-bahasa bernada, nada bisa bersifat morfemis. Artinya, perbedaan nada dapat membedakan makna. Bahasa-bahasa tonal atau bahasa bernada misalnya Vietnam, Thailand, dan Mandarin. Dalam bahasa Tonal, biasanya dikenal ada lima macam nada, yaitu:
·         Nada naik atau meninggi yang biasanya diberi tanda garis ke atas (/).
·         Nada datar yang biasanya diberi tanda lurus mendatar (−).
·         Nada turun atau merendah yang biasanya diberi tanda garis  menurun (\).
·         Nada turun naik yakni nada yang merendah kemudian meninggi, biasanya diberi tanda garis seperti (˅).
·         Nada naik turun yaitu nada yang meninggi lalu merendah, biasanya diberi tanda seperti (˄).

Sama halnya dengan tekanan, dalam bahasa Indonesia nada juga tidak “bekerja” pada tingkat fonemis, melainkan “bekerja” pada tingkat sintaksis, karena dapat membedakan makna kalimat. Variasi nada yang menyertai unsur segmental dalam kalimat disebut intonasi, yang biasanya dibedakan menjadi empat, yaitu:
·         Nada rendah, ditandai dengan angka 1
·         Nada sedang, ditandai dengan angka 2
·         Nada tinggi, ditandai dengan angka 3
·         Nada sangat tinggi, ditandai dengan angka 4
Contohnya yaitu:
1)      Nada berita, digunakan untuk mengungkapkan pembicaraan yag berisi pemberitahuan tentang sesuatu. Dalam penulisan ditandai penggunaan tanda titik (.).
Contoh: Budi akan mengikuti olimpiade Fisika.
2)      Nada  pertanyaan, digunakan untuk bertanya tentang sesuatu (yang mengungkapkan maksud pembicara untuk memnita keterangan dari lawan tutur). Dalam penulisan ditandai penggunaan tanda tanya (?).
Contoh: Mengapa datang terlambat?
3)      Nada perintah, digunakan untuk mengungkapkan maksud pembicara agar lawan bicara melakukan suatu perbuatan. Dalam penulisan ditandai penggunaan tanda seru (!).
Contoh: Belajarlah dengan tekun!
Sedangkan dilihat dari lagu kalimatnya, yaitu:
a.       nada naik. Contoh: Apa maksudnya?
b.      Nada datar. Contoh: Kita harus bekerja keras.
c.       Nada menurun. Contoh: "Besok pagi pekerjaan ini seharusnya selesai,"kata ibu.
c)      Jada
Jeda ialah hentian dalam ujaran yang sering terjadi di depan unsur yang memunyai isi informasi yang tinggi atau kemungkinan yang rendah (Kridalaksana 1993:88). Biasa dikenal yang lebih ringkas yaitu hentian sebentar dalam ujaran. Dalam bahasa lisan, jeda ditandai dengan kesenyapan. Pada bahasa tulis jeda ditandai dengan spasi atau dilambangkan dengan garis miring (/), tanda koma (,), tanda titik koma (;), tanda titik dua (:), atautanda hubung (-). Jeda sangat berpengaruh terhadap perubahan makna. Perhatikan contoh di bawah ini
1)      Kata adik, ibu Ani itu guru yang pandai.
2)      Kata adik ibu, Ani itu guru yang pandai.
3)      Kata adik ibu Ani, itu guru yang pandai.
Ketiga kalimat tersebut memiliki makna yang berbeda. Perbedaan itu dapat kita deskripsikan sebagai berikut:




No 
kalimat
Yang berkata
Yang pandai
1
adik
ibu
ani
2
adik
Ibu (bibi/paman)
ani
3
adik
Ibu ani (adik dari ibu ani)
Seorang guru








2.      Silabel
Silabel atau suku kata adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtunan bunyi ujaran. Silabel biasanya meliputi satu vokal, atau satu vokal dan satu konsonan atau lebih.
Silabel sebagai sataun ritmis mempunyai puncak kenyaringan atau sonoritas yang biasanya jatuh pada sebuah vokal. Kenyaringan atau resonansi berupa rongga mulut, rongga hidung, atau rongga-rongga lain di dalam kepala dan dada.
Bunyi yang paling banyak menggunakan ruang resonansi itu adalah bunyi vokal. Karena itulah yang disebut bunyi silabis atau puncak selabis adalah bunyi vokal.  
Menentukan batas silabel sebuah kata kadang-kadang memang agak sukar karena penentuan batas itu bukan hanya soal fonetik, tetapi juga soal fonemik, morfologi, dan ortografi. Misalnya kata Indonesia /makan/, silabel adalah /ma/ dan /kan/.
A.    FONEMIK
Objek kajian fonemik adalah fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata. Dalam fonemik kita meneliti apakan bunyi itu mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Jika bunyi itu membedakan makna, maka bunyi tersebut adalah fonem, jika tidak membedakan makna maka bukan fonem.


1.      Identifikasi fonem
Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem / bukan kita harus mencari sebuah satuan bahasa biasanya sebuah kata yang mengandung bunyi tersebut. Lalu membandingkannya dengan satuan bahasa yang mirip dengan satuan bahasa yang pertama. Kalau ternyata kedua satuan bahasa itu berbeda maknanya, maka berarti bunyi tersebut adalah sebuah fonem karena dia bisa berfungsi membedakan makna kedua satuan bahasa itu.
Misalnya dalam kata bahasa Indonesia.
/Laba/
/Raba/
Kedua kata itu mirip benar. Masing-masing terdiri dari 4 buah bunyi yang pertama mempunyai bunyi /L/, /a/, /b/, /a/, dan yang kedua mempunyai bunyi /r/, /a/, /b/ dan /a/.
Jika kita bandingkan:
/L/ /a/ /b/ /a/
/R/ /a/ /b/ /a/
Ternyata perbedaannya hanya pada bunyi yang pertama yaitu bunyi /L/ dan /r/ kesimpulannya bahwa bunyi /L/ dan /r/ adalah dua buah fonem yang berbeda didalam bahasa Indonesia.
untuk membuktikan sebuah fonem atau bukan harus mencari pasangan minimalnya. Kendalanya kadang-kadang pasangan minimal ini tidak mempunyai jumlah bunyi yang persis sama, misalnya “muda” dengan “mudah”. Ini merupakan pasangan minimal sebab tiadanya bunyi /h/ pada kata pertama dan adanya bunyi /h/ pada kata kedua menyebabkan kedua kat aitu berbeda-beda makna. Jadi bunyi /h/ adalah sebuah fonem.
“Teras” dengan “Teras”
Identitas sebuah fonem hanya berlaku dalam satu bahasa tertentu saja. Misalnya dalam bahasa Indonesia kata bebek lafalnya [bεbεk] dan kata bebe lafalnya [bebe]. Kedua kata tersebut termasuk dalam fonem yang sama sebab bebek dan bebe bukan merupakan pasangan minimal.




2.      Alofon
Alofon adalah variasi fonem yang tidak membedakan bentuk dan arti kata. Alofon adalah bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari fonem. Pendistribusian alofon terbagi menjadi duayakni bersifat komplementer dan bersifat babas.
a.       Alofon vokal
Ø  Alofon fonem /a/, yaitu
[a] jika terdapat pada semua posisi suku kata.
[aku]à/aku, [sabtu]à/sabtu/
Ø  Alofon fonem /i/, yaitu
[i] jika terdapat pada suku kata terbuka. Misalnya, [bibi]à /bibi/
[I] jika terdapat pada suku kata tertutup. Misalnya, [karIb]à /karib/
[Iy] palatalisasi jika diikuti oleh vokal [aou].à [kiyos]à /kios/
[ϊ] nasalisasi jika diikuti oleh nasal. [ϊndah]à /indah/
Ø  Alofon fonem /u/, yaitu
[u] jika terdapat pada posisi suku kata terbuka.
[aku]à/aku/, [buka]à/buka/
[U] jika terdapat pada suku kata tertutup.
[ampUn]à/ampun/, [kumpul]à/kumpul/
[uw] labialisasi jika diikuti oleh[I,e,a], [buwih]à/buih/, [kuwe]à/kue/
Ø  Alofon fonem /ε/, yaitu
[e] jika terdapat pada suku kata terbuka dan tidak diikuti oleh suku kata yang
mengandung alofon [ε]. Misalnya, [sore]à /sore/
[ε] jika terdapat pada tempat-tempat lain. Misalnya, [pεsta]à/pesta/
[¶] jika terdapat pada posisi suku kata terbuka. [p¶ta]à/peta/
[¶] jika terdapat pada posisi suku kata tertutup. [sent¶r]à/senter/
Ø  Alofon fonem /o/, yaitu
[o] jika terdapat pada suku kata akhir terbuka. [soto]à/soto/
[É] jika terdapat pada posisi lain. [jeblÉs]à/jeblos/

b.      Alofon konsonan
Ø  Fonem /c/
[c] bunyi lepas jika diikuti vocal.
[cari]à/cari/, [cacing]à/cacing/
Ø  Fonem /f/
[j] jika terdapat pada posisi sebelum dan sesudah vocal.
[fakir]à/fakir/, [fitri]à/fitri/
Ø  Fonem /g/
[g] bunyi lepas jika diikuti glottal.
[gagah]à/gagah/, [gula]à/gula/
[k>] bunyi hambat-velar-tak bersuara dan lepas jika terdapat di akhir kata.
[beduk>]à/bedug/,[gudek>]à/gudeg/
Ø  Fonem /h/
[h] bunyi tak bersuara jika terdapat di awal dan akhir suku kata.
[hasil]à/hasil, [hujan]à/hujan/
[H] jika berada di tengah kata
[taHu]à/tahu/, [laHan]à/lahan/
Ø  Fonem /j/
[j] bunyi lepas jika diikuti vocal.
[juga]à/juga/, [jadi]à/jadi/
Ø  Fonem /k/
[k] bunyi lepas jika terdapat pada awal suku kata.
[kala]à/kala/, [kelam]à/kelam/
[k>] bunyi tak lepas jika tedapat pada tengah kata dan diikuti konsonan lain.
[pak>sa]à/paksa/, [sik>sa]à/siksa/
[?] bunyi hambat glottal jika terdapat pada akhir kata.
[tida?]à/tidak/, [ana?]à/anak/
Ø  Fonem /l/
[l] berada di awal dan akhir suku kata.
[lama]à/lama/, [palsu]à/palsu/
Ø  Fonem /m/
[m] berada di awal dan akhir suku kata
[masuk]à/masuk/, [makan]à/makan/
Ø  Fonem /n/
[n] berada di awal dan akhir suku kata.
[nakal]à/nakal/, [nasib]à/nasib/
[ň] berada di awal suku kata
[baňak]à/banyak/, [buňi]à/bunyi/
Ø  Fonem /Ƞ/
[Ƞ] berada di awal dan akhir suku kata.
[Ƞarai]à/ngarai/, [paȠkal]à/pangkal/
Ø  Fonem /p/
[p] bunyi konsonan hambat-bilabial-tak bersuara
[piker]à/piker/, [hapal]à/h
Ø  Fonem /p/
[p] bunyi lepas jika diikuti vokal.
[pipi]à/pipi/, [sapi]à/sapi/
[p>] bunyi tak lepas jika terdapat pada suku kata tertutup.
[atap>]à/atap/, [balap>]à/balap/
[b] bunyi lepas jika diikuti oleh vocal.
[babi]à/babi/, [babu]à/babu/
[p>] bunyi taklepas jika terdapat pada suku kata tertutup, namun berubah lagi menjadi [b] jika diikuti lagi vokal.
[adap>]à/adab/, [jawap>]à/jawab/
apal/
Ø  Fonem /r/
[r] berada di awal dan akhir suku kata, kadang-kadang bervariasi dengan bunyi getar uvular [R].
[raja] atau [Raja]à/raja/, [karya] atau [kaRya]à/karya/
Ø  Fonem /š/
[š] umumnya terdapat di awal dan akhir kata
[šarat]à/syarat/, [araš]à/arasy/
Ø  Fonem /t/
[t] bunyi lepas jika diikutu oleh vokal.
[tanam]à/tanam/, [tusuk]à/tusuk/
[t>] bunyi tak lepas jika terdapat pada suku kata tertutup.
[lompat>]à/lompat/,[sakit>]à/sakit/
[d] bunyi lepas jika diikuti vocal.
[duta]à/duta/, [dadu]à/dadu/
[t>] bunyi hambat-dental-tak bersuara dan tak lepas jika terdapat pada suku kata tertutup atau pada akhir kata.
[abat>]à/abad/,[murtat>]à/murtad/
Ø   Fonem /w/
[w] merupakan konsonan jika terdapat di awal suku kata dan semi vocal pada akhir suku kata.
[waktu]à/waktu/, [wujud]à/wujud/
Ø  Fonem /x/
[x] berada di awal dan akhir suku kata.
[xas]à/khas/, [xusus]à/khusus/
Ø  Fonem /y/
[y] merupakan konsonan jika terdapat di awal suku kata dan semi vocal pada akhir suku kata.
[santay]à/santai/, [ramai]à/ramai/
Ø  Fonem /z/
[z] [zat]à/zat/, [izin]-à/izin/

3.      Klasifikasi fonem
Klasifikasi fonem sama dengan klasifikasi bunyi dan unsur segmental. Ada bunyi vokal da nada bunyi konsonan itu banyak sekali, maka fonem vokal dan fonem konsonan itu agak terbatas, sebab hanya bunyi-bunyi yang dapat membedakan makna dan dapat menajadikan fonem.
Fonem-fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem nonsegmental. Umpamanya dalam bahasa batak toba kata tutu (dengan tekanan pada suku kedua) berarti betul.
Dalam bahasa-bahasa tonal (bahasa bernada) seperti bahasa Thailand, bahasa Burma, dan bahasa mandarin, nada dapat membedakan makna. Misalnya,  dalam bahasa mandarin kata yang berbunyi /wai/ bila diberi nada datar berarti (kutu kayu) kalau diberi nada naik berarti (bahaya). Kalau diberu nada turun kemudian naik berarti )menjawab dengan serta merta). Dan bila diberi nada naik lalu turun berarti (takut).

4.      Khazanah fonem
Khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Berapa jumlah fonem yng dimiliki suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain. Jumlah fonem dalam bahasa Indonesia yaitu 24 buah, yang terdiri dari 6 buah fonem vokal yakni (a, I, u, e, ₔ, dan o) dan 18 buah fonem konsonan yakni ( p, t, c, k, b, d, j, g, m, n, n, Ƞ, s, h, r, l, w, dan y). ada juga yang menghitug bahwa ada 28 buah yakni 4 fonem vokal yang berasal dari bahasa asing yakni f, z, ∫, dan x. selain itu ada juga yang menghitung 31 buah yaitu dngan menambahkan 3 buah fonem diftong [aw], [ay], [oy].

5.      Perubahan fonem
1.      Asimilasi dan disimilasi
Yang dimaksud dengan asimilasi yaitu pristiwa perubahan bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinnya.
Contoh asimilasi:
Sabtu dalam bahasa Indonesia lazim disebutkan [saptu], dimana terlihat [b] berubah menjadi [p] karena pengaruh [t].
Yang dimaksuk disimilasi yaitu peristiwa perubahan bunyi yang menyababkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan.
Contoh disimilasi:
Citta yang berubah menjadi kata cipta dan cinta, kita lihat bunyi [tt] pada kata citta berubah menjadi bunyi [pt] pada kata cipta dan berubah menjadi bunyi [nt] pada kata cinta



2.      Netralisasi dan arkifonem
Yang dimaksud dengan netralisasi yaitu pristiwa perubahan bunyi yang menyebabkan batalnya fungsi fonemik sebagai pembeda makna.
Contoh netralisasi :
Bunyi [lembab] dan [lembap], pada hakekatnya bunyi ini memiliki makna yang sama. Kita lihat /b/ dan /p/ di sini kehilangan fungsinya sebagai pembeda makna.

Yang dimaksud dengan akrifonem yaitu satuan terkecil dalam kosakata yeng menetralisasikan oposisi antara ciri-ciri makna beberapa leksem.
Contoh akrifonem :
Kata  Jawab yang diucapkan /jawap/ atau diucapkan /jawab/, tetapi bila diberi akhiran –an bentuknya menjadi jawaban. Jadi, di sini ada /B/ yang realisasinya bisa menjadi /p/ atau /b/.

3.      Umlaut, ablaut, dan harmonica vokal
umlaut berasal dari bahasa Jerman yang berarti perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya yang tinggi. Misalnya, dalam bahasa Belanda bunyi [a] pada kata handje lebih tinggi kualitasnya dibandingkan dengan bunyi [a] pada kata hand. Penyebabnya adalah bunyi [y] yang posisinya lebih tinggi dari bunyi [a].
Ablaut adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai berbagai fungsi gramatikal. Misalnya, dalam bahasa Inggris kata sing berubah menjadi sang atau sung untuk penandaan kala.
harmonisasi vokal adalah perubahan bunyi atau keselarasan vokal. Misalnya kata amba ucapannya [o-mbo] artinya lebar menjadi ambane lafalnya [a-mbane] artinnya ’lebarnya’ dan sega lafal [se-go] artinya nasi menjadi segane lafalnya [s-gane].

4.      Kontraksi
Yaitu menyingkat atau memperpendek ujarannya.
Contoh:
tidak tahu~ndak tahu
Itu tadi~tu tadi
5.      Metatesis dan epentesis
Metafisis : Mengubah urutan fonem yang terdapat disebuah kata (variasi).
Contoh: sapu, usap, apus ~ lajur, jalur.
Epentesis : sebuah fonem yang disisipkan pada sebuah kata.
Contoh: kampak, kapak. Akasa-angkasa. Upama-umpama.

6.      Fonem dan grafem
Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Untuk menempatkan sebuah bunyi yang berstatus fonem harus berupa dua buah kata yang mirip, yang memiliki satu bunyi yang berbeda, sedangkan yang lainnya sama.
Fonem di anggap sebagai konsep abstrak, yang di dalam peraturan direalisasikan oleh alofon, atau alofon-alofonnya sesuai dengan lingkungan tempat hadirnya fonem tersebut. Fonem ditulis di antara tanda /…/ .
Contoh Fonem /e/ dan /Ə/ dilambangkan <e>
/sate/                      :  <sate>
/ide/                       :  <ide>
/mƏnang/              : <menang>
/bƏrat/                   : <berat>

Grafem adalah lambang huruf, grafem merujuk ke huruf atau gabungan huruf sebagai satuan pelambang fonem di dalam satu ejaan.
Contoh: kata tanggal terdiri dari tujuh huruf, yaitu t-a-n-g-g-a-l, tetapi grafemnya hanya enam, yaitu <t>, <a>, <ng>, <g>, <a>, <l>.




BAB III
PENUTUP

A.      KESIMPULAN
Fonologi adalah cabang ilmu bahasa (linguistik) yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa, proses terbentuknya dan perubahannya. Fonologi mengkaji bunyi bahasa secara umum dan fungsional.
Istilah fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna. Varian fonem berdasarkan posisi dalam kata, misal fonem pertama pada kata makan dan makna secara fonetis berbeda. Variasi suatu fonem yang tidak membedakan arti dinamakan alofon.
Kajian fonetik terbagi atas klasifikasi bunyi yang kebanyakan bunyi bahasa Indonesia merupakan bunyi egresif. Dan yang kedua pembentukan vokal, konsonan, diftong, dan kluster.
Dalam hal kajian fonetik, perlu adanya fonemisasi yang ditujukan untuk menemukan bunyi-bunyi yang berfungsi dalam rangka pembedaan makna tersebut.

B.       SARAN

Adapun saran yang dapat penulis sampaikan yaitu kita sebagai calon pendidik, harus selalu menggali potensi yang ada pada diri kita. Cara menggali potensi dapat dilakukan salah satunya dengan cara mempelajari makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat untuk kita ke depannya. Amiin.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul, chaer. 2007. Linguistik umum. Jakarta, Rineka cipta
http://shoitara-uciha.blogspot.co.id/2014/04/makalah-fonologi.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar