BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bahasa adalah
suatu sistem lambang bunyi yang dipakai manusia untuk tujuan komunikasi. Oleh
karena itu pengajaran Bahasa Indonesia pada hakekatnya mempunyai ruang lingkup
dan tujuan yang menumbuhkan kemampuan mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan
menggunakan bahasa yang baik dan benar agar seseorang dapat berkomunikasi
dengan baik dan benar.
Banyak kajian
teori mengenai bahasa ini. Salah satunya kajian tentang fonologi. Sebagai calon
pendidik selayaknya memahami kajian tentang fonologi ini untuk dijadikan
pedoman mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia. Penulis merasa perlu untuk
menyusun
makalah ini agar dapat membantu penulis pada
khususnya dan pembaca pada umumnya untuk mengetahui tentang batasan dan kajian
fonologi, beberapa pengetian mengenai tata bunyi, kajian fonetik, kajian
fonemik.
B.
Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalahnya, yaitu:
1.
Bagaimana pengertian fonologi menurut para
ahli?
2.
Bagaimana
kajian fonetik dalam fonologi?
3.
Bagaimana
kajian fonemik dalam fonologi?
C.
Tujuan Penulisan
Adapun beberapa tujuan dalam penulisan makalah ini,
yaitu:
1.
Menjelaskan pengertian fonologi menurut para
ahli
2.
Menjelaskan
kajian fonetik
3.
Menjelaskan kajian fonemik
BAB 2
PEMBAHASAN
FONOLOGI
Bidang linguistik
yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa,
yang secara etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi, dan logi yaitu ilmu.
Berikut
pengertian Fonologi menurut para ahli.
1) Kridalaksana
(2002) dalam kamus linguistik, fonologi adalah bidang dalam linguistik yang
menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya.
2) Kamus
Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1988:244), fonologi dimaknai sebagai
ilmu tentang bunyi bahasa, terutama yang mencakup sejarah dan teori
perubahan bunyi.
3) Abdul
Chaer (2003:102), secara etimologi istilah “fonologi” ini dibentuk dari kata
“fon” yang bermakna “bunyi” dan “logi” yang berarti “ilmu”. Jadi, secara
sederhana dapat dikatakan bahwa fonologi merupakan ilmu yang mempelajari bunyi-bunyi
bahasa pada umumnya.
4) Verhaar
(1984:36) mengatakan bahwa fonologi merupakan bidang khusus dalam
linguistik yang mengamati bunyi-bunyi suatu bahasa tertentu sesuai dengan
fungsinya untuk membedakan makna leksikal dalam suatu bahasa.
5) Keraf,(1984:
30) Fonologi ialah bagian dari tata bahasa yang memperlajari bunyi-bunyi bahasa
.
6) Fromkin
& Rodman (1998:96), fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari,
menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa.
7) Trubetzkoy
(1962:11-12), fonologi merupakan studi bahasa yang berkenaan dengan sistem
bahasa, organisasi bahasa, serta merupakan studi fungsi linguistis bahasa.
8) Daniel
Jones, Sarjana fonologi Inggris,Fonologi ialah sistem bunyi sebuah
bahasa.
Menurut
hararki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibedakan menjadi
fonetik dan fonemik.
A. FONETIK
Fonetik adalah bidang linguistik yang mempelajari
bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai
pembaca makna atau tidak. Menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu,
dibedakan ada tiga jenis fonetik, yaitu Fonetik artikulatoris, Fonetik akustik dan,
Fonetik audiotoris
1) Fonetik
artikulatoris, di sebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis ,
mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam
menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan.
2) Fonetik
akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai
pristiwa fasis atau fenomena alam. Bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi
getarannya, amplitudonya, intensitasnya, dan timbrenya.
3) Fonetik
audiotoris mempelajarai bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga
kita.
Dari ketiga cabang
fonetik tersebut yang paling berurusan dengan dunia lingistik adalah fonetik
artikulatoris karena fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana
bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau di ucapkan manusia. Sedangkan fonetik
akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika, dan fonetik audiotori berkenaan
dengan bidang kedokteran.
Pada pembahasan kali ini kita akan membicarakan
mengenai fonetik artikulatoris saja Karen cabang fonetik ini sebagian besar
termasuk dalam bidang linguistic.
1.
Alat-alat
ucap
Dalam fonetik
artikulatoris hal pertama yang dibicarakan adalah alat ucap manusia untuk
menghasilkan bunyi bahasa. Untuk bisa memahami bagaimana bunyi bahasa itu
diproduksi dan nama-nama bunyi itupun di ambil dari nama-nama alat ucap itu.
Untuk mengenal alat-alat ucap itu
perhatikan bagan berikut:
1)
Paru-paru (lung)
2)
Batang tenggorok (trachea)
3)
Pangkal tenggorokan (larynx)
4)
Pita suara (vocal cord)
5)
Krikoid (cricoid)
6)
Tiroid (thyroid)
7)
Aritenoid ( arythenoid)
8)
rongga kerongkongan (pharynx)
9)
Epiglotis (epilglotis)
10)
Akar lidah (root of the tongue)
11)
Pangkal lidah (back of the tongue,
dorsum)
12)
Tengah lidah (middle of the tongue,
medium)
13)
Daun lidah (blade of the tongue,
laminum)
14)
Ujung lidah (tip of the tongue, apex)
15)
Anak tekak (ovula)
16)
Langit-langit lunak (soft palate, velum)
17)
Langit-langit keras (hard plate,
palatum)
18)
Gusi, lengkung kaki gigi (alveolum)
19)
Gigi atas (upper teeth, dentum)
20)
Gigi bawah (lower teeth, dentum)
21)
Bibir atas (upper lip, labium)
22)
Bibir bawah (lower lip, labium)
23)
Mulut (mouth)
24)
Rongga mulut (oral cavity)
25)
Rongga hidung (nasal cavity)
Bunyi-bunyi
yang terjadi pada alat-alat ucap itu biasanya diberi nama sesuai dengan nama
alat ucap itu. Berikut bentuk-bentk ajektif nama-nama yang sering muncul dalam
studi fonetik.
2) Batang tenggorok (trachea) - laringal
8) rongga kerongkongan (pharynx) - faringal
11) Pangkal lidah (back
of the tongue, dorsum) - dorsal
12) Tengah lidah
(middle of the tongue, medium) - medial
13) Daun lidah (blade
of the tongue, laminum) - laminal
14) Ujung lidah (tip of
the tongue, apex) -apikal
15) Anak tekak (ovula)
- uvular
16) Langit-langit lunak
(soft palate, velum) -velar
17) Langit-langit keras
(hard plate, palatum) - palata
18) Gusi, lengkung kaki
gigi (alveolum) - alveolar
19)Gigi atas (upper
teeth, dentum) - dental
20) Gigi bawah (lower
teeth, dentum) - labial
Sesuai dengan bunyi bahasa itu di
hasilkan, maka harus kita gabungkan istilah nama kedua alat ucap itu.
Misalnya, gabungan
ujung lidah dan gigi ( huruf L) yaitu apikodental, gabungan bibir bawah dan
gigi atas ( huruf F) labiodental dan gabungan daun lidah dan langit-langit
keras (hurif D) laminopalatal.
1.
Proses
fonasi
Proses
terbentuknya bunyi bahasa secara garis besarnya terbagi atas 4 macam, yakni:
1) Proses keluarnya bunyi dari
paru-paru,
2) Proses fonasi, yaitu lewatnya bunyi
dalam tenggorokan,
3) Proses artikulasi yaitu proses
terbentuknya bunyi oleh artikulator dan,
4) Proses oro-nasal, proses keluarnya
bunyi melalui mulut atau hidung
Terjadinya Bunyi:
1) Sumber energi
utama terjadinya bunyi bunyi bahasa adalah adanya udara dari paru-paru.
2) Udara dihirup
ke dalam paru-paru kemudian dihembuskan keluar bersama-sama waktu sedang
bernapas.
3) Udara yang dihembuskan
(atau dihirup untuk sebagaian kecil bunyi bahasa) mendapat hambatan di berbagai
tempat alat-alat bicara dengan berbagai cara sehingga terjadi bunyi bahasa.
4) Tempat atau
alat bicara yang dilewati diantaranya batang tenggorok, pangkal tenggorok,
kerongkongan, rongga mulut, rongga hidung.
5) Pada waktu
udara mengalir keluar pita suara
harus dalam
keadaan terbuka.
6) Jika udara
tidak mengalami hambatan pada alat bicara, bunyi bahasa tidak akan terjadi.
7) Syarat
terjadinya bunyi bahasa secara garis besar
2.
Tulisan
fonetik
Tulisa fonetik dibuat untuk keperluan studi fonetik,
sesungguhnya dibuat berdasarkan huruf-huruf dari aksara latin, yang di tambah
dengan sejumlah tanda diakritik dan sejumlah modifikasi terhadap huruf latin
itu. Dalam tulisan fonetik setiap hruf atau lambang hanya digunakan untuk
melambangkan satu bunyi bahasa. Dalam studi linguistik dikenal adanya beberapa
macam system tulisan dan ejaan, diantaranya:
·
tulisan
fonetik untuk ejaan fonetik
·
tulisan fonemis untuk ejaan fonemis
·
system
aksara tertentu untuk ejaan ortografis
Dalam studi linguistik dikenal dengan adanya
tulisan fonetik dari International Phonetic Alphabet (IPA).
dalam
tulisan fonetik setiap bunyi baik yang segmental maupun yang suprasegmental
dilambangkan secara akurat. Artinya, setiap bunyi mempunyai lambang-lambangnya
sendiri, meskipun perbedaanya hanya sedikit, tetapi dalam tulisan fonemik haya
perbedaan bunyi yang distingtif saja yakni yang membedakan makna, yang
dibedakan lambangnya.
Contoh: kata [tahu], [tau], [teras] dan [t∂ras] akan
bermakna lain. Sedangkan kata duduk dan didik ketika diucapkan secara
bervariasi [dudU?], [dUdU?], [didī?], [dīdī?] tidak membedakan makna.
1.
Klasifikasi bunyi
Pada umumnya bunyi bahasa dibedakan atas vokal dan konsonan.
1) Bunyi vokal
Bunyi vokal adalah
bunyi yang arus udaranya tidak mengalami rintangan. Pada pembentukan vokal
tidak ada artikulasi. Hambatan pada pita suara tidak lazim disebut artikulasi.
Karena vokal dihasilkan dengan hambatan pita suara maka pita suara bergetar. Posisi
glottis dalam keadaan tertutup, tetapi tidak rapat sekali. Dengan demikian,
semua vokal termasuk bunyi bersuara.
Kualitasnya ditentukan oleh tiga faktor:
·
tinggi-rendahnya
posisi lidah (tinggi, sedang, rendah)
·
bagian
lidah yang dinaikkan (depan, tengah, belakang)
·
bentuk
bibir pada pembentukan vokalitu (normal, bundar, lebar/terentan
posisi lidah bisa bersifat vartikal ataupun horizontal.
Secara vartikal debedakan vokal tinggi misalnya bunyi [i] dan [u], vokal tengah
misalnya bunyi [e] dan [ₔ] dan, vokal rendah misalnya bunyi [a].
secara horizontal dibedakan atas vokal vokal depan misalnya
bunyi [i] dan [e], vakal pusat
misalnya bunyi [ₔ] dan vokal belakang
misalnya bunyi [u] dan [o].
2) Bunyi diftong
Diftong
adalah dua vokal
yang diucapkan sekaligus. Dalam sistem tulisan diftong biasa dilambangkan oleh
dua huruf vokal. Kedua huruf vokal itu tidak dapat dipisahkan. Bunyi [aw] pada
kata "harimau" adalah diftong,
sehingga [au] pada suku kata "mau" tidak dapat dipisahkan menjadi
"ma-u" seperti pada kata "mau".
Demikian pula halnya dengan deretan huruf vokal [ai] pada kata "sungai".
Deretan huruf vokal itu melambangkan bunyi diftong [ay] yang merupakan inti
suku kata "ngai".
Diftong berbeda
dari deretan vokal. Tiap-tiap
vokal pada deretan vokal mendapat hembusan napas yang sama atau hampir sama;
kedua vokal itu termasuk dalam dua suku kata yang berbeda.
1) konsonan
konsonan adalah bunyi bahasa yang dibentuk dengan
menghambat arus udara pada sebagian alat ucap. Dalam hal ini terjadi artikulasi.
Proses hambatan atau artikulasi ini dapat disertai dengan bergetarnya pita
suara, sehingga terbentuk bunyi konsonan bersuara. Jika artikulasi itu tidak disertai
bergetarnya pita suara, glottis dalam keadaan terbuka akan menghasilkan konsonan
tak bersuara. Kualitasnya ditentukan oleh tiga faktor:
·
keadaan
pita suara (merapat atau merenggang – bersuara atau tak bersuara)
·
penyentuhan
atau pendekatan berbagai alat ucap/artikulator (bibir, gigi, gusi, lidah,
langit-langit)
·
cara
alat ucap tersebut bersentuhan/berdekatan
berdasarkan
tempat artikulasinya konsonan antara lain:
1)
bilabial
terjadi pada kedua belah bibir. Bunyi yang termasuk konsonan bilabial adalah [b],
[p], dan [m]. [b] dan [p] adalah bunyi oral yaitu dikeluarkan melalui rongga
mulut, sedangkan [m] adalah bunyi nasal yatu bunyi yang dikeluarkan dari rongga
hidung.
2)
Labiodental
konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas. Yang termasuk labiobiyal
yakni bunyi [f] dan [v]
3)
Laminoalveolar
terjadi pada daun lidah yang menempel pada gusi yakni bunyi [t] dan [d].
4)
Dorsovelar
terjadi pada pangkal lidah dan velum atau langi-langit lunak yakni bunyi [k]
dan [g].
Berdasarkan
cara artikulasinya, artinya bagaimana gangguan atau hambatan yang dilakukan
terhadap arus udara itu antara lain:
1)
Hambat
(letupan, plosive, stop), bunyi [p], [b], [t], [d], [k] dan [g].
2)
Geseran
atau frikatif, bunyi [f], [s], [z].
3)
Paduan
atau frikatif, bunyi [c] dan [d].
4)
Sengauan
atau nasal, bunyi [m], [n] dan[Ƞ].
5)
Getaran
atau trill, bunyi [r].
6)
Sampingan
atau literal, bunyi [i]
7)
Hampiran
atau aproksiman, bunyi [w] dan [y].
Berdasarkan posisi pita suara, tempat artikulasi
dan cara artikulasi.
Dapat kita buat peta konsonan sebagai berikut:
1. Unsur suprasegmental
Disebut Suprasegmental karena suprasegmental adalah unsur
yang ‘menemani’ dan memengaruhi bunyi bahasa, dan bukan bunyi sejati. karena
bukan bunyi sejati itulah sehingga unsur tersebut dinamakan suprasegmental.

Cara yang paling mudah untuk memahami unsur suprasegmental
adalah melalui pendekatan fonetik
akustik. Ada dua sifat akustik yang berpengaruh dalam unsur suprasegmental
yaitu frekuensi dan amplitudo. Kedua unsur ini sangat berpengaruh dalam unsur suprasegmental yang sangat berkaitan.
a) Tekanan ialah ucapan
yang ditekankan pada suku kata atau kata sehingga bagian tersebut tampak lebih
keras atau menonjol dari suku kata atau kata yang lain. Ketika mengucapkan
suatu kalimat yang didalamnya terdapat kata yang penting biasanya kita akan
menekan suku kata atau kata tersebut agar lawan tutur memahaminya dengan benar.
Tekanan biasa juga di sebut aksen.
Perhatika contoh tekanan kalimat yang ditandai kata bercetak tebal miring di bawah ini.
Perhatika contoh tekanan kalimat yang ditandai kata bercetak tebal miring di bawah ini.
1) Ternyata
Rizki berhasil menjadi juara I lomba KIR kemarin, Din. (bukan Anton)
2) Ternyata
Rizki berhasil menjadi juara I lomba KIR kemarin, Din. (bukan juara II)
3) Ternyata
Rizki berhasil menjadi juara I lomba KIR kemarin, Din. (bukan lomba baca puisi)
b) Nada atau intonasi
Dalam
bahasa-bahasa bernada, nada bisa bersifat morfemis. Artinya, perbedaan nada
dapat membedakan makna. Bahasa-bahasa tonal atau bahasa bernada misalnya
Vietnam, Thailand, dan Mandarin. Dalam bahasa Tonal, biasanya dikenal
ada lima macam nada, yaitu:
·
Nada
naik atau meninggi yang biasanya diberi tanda garis ke atas (/).
·
Nada
datar yang biasanya diberi tanda lurus mendatar (−).
·
Nada
turun atau merendah yang biasanya diberi tanda garis menurun (\).
·
Nada
turun naik yakni nada yang merendah kemudian meninggi, biasanya diberi tanda
garis seperti (˅).
·
Nada
naik turun yaitu nada yang meninggi lalu merendah, biasanya diberi tanda
seperti (˄).
Sama halnya dengan tekanan, dalam
bahasa Indonesia nada juga tidak “bekerja” pada tingkat fonemis, melainkan
“bekerja” pada tingkat sintaksis, karena dapat membedakan makna kalimat.
Variasi nada yang menyertai unsur segmental dalam kalimat disebut intonasi,
yang biasanya dibedakan menjadi empat, yaitu:
·
Nada
rendah, ditandai dengan angka 1
·
Nada
sedang, ditandai dengan angka 2
·
Nada
tinggi, ditandai dengan angka 3
·
Nada
sangat tinggi, ditandai dengan angka 4
Contohnya
yaitu:
1) Nada
berita, digunakan untuk mengungkapkan pembicaraan yag berisi pemberitahuan
tentang sesuatu. Dalam penulisan ditandai penggunaan tanda titik (.).
Contoh: Budi akan mengikuti
olimpiade Fisika.
2) Nada
pertanyaan, digunakan untuk bertanya
tentang sesuatu (yang mengungkapkan maksud pembicara untuk memnita keterangan
dari lawan tutur). Dalam penulisan ditandai penggunaan tanda tanya (?).
Contoh: Mengapa datang terlambat?
3) Nada
perintah, digunakan untuk mengungkapkan maksud pembicara agar lawan bicara
melakukan suatu perbuatan. Dalam penulisan ditandai penggunaan tanda seru (!).
Contoh: Belajarlah dengan tekun!
Sedangkan dilihat dari lagu
kalimatnya, yaitu:
a. nada
naik. Contoh: Apa maksudnya?
b. Nada
datar. Contoh: Kita harus bekerja keras.
c. Nada
menurun. Contoh: "Besok pagi pekerjaan ini seharusnya selesai,"kata
ibu.
c)
Jada
Jeda
ialah hentian dalam ujaran yang sering terjadi di depan unsur yang memunyai isi
informasi yang tinggi atau kemungkinan yang rendah (Kridalaksana 1993:88).
Biasa dikenal yang lebih ringkas yaitu hentian sebentar dalam ujaran. Dalam
bahasa lisan, jeda ditandai dengan kesenyapan. Pada bahasa tulis jeda ditandai
dengan spasi atau dilambangkan dengan garis miring (/), tanda koma (,), tanda
titik koma (;), tanda titik dua (:), atautanda hubung (-). Jeda sangat
berpengaruh terhadap perubahan makna. Perhatikan contoh di bawah ini
1)
Kata adik, ibu Ani itu guru yang pandai.
2)
Kata adik ibu, Ani itu guru yang pandai.
3)
Kata adik ibu Ani, itu guru yang pandai.
Ketiga
kalimat tersebut memiliki makna yang berbeda. Perbedaan itu dapat kita
deskripsikan sebagai berikut:
|
No
|
kalimat
|
Yang
berkata
|
Yang
pandai
|
|
1
|
adik
|
ibu
|
ani
|
|
2
|
adik
|
Ibu
(bibi/paman)
|
ani
|
|
3
|
adik
|
Ibu
ani (adik dari ibu ani)
|
Seorang
guru
|
2. Silabel
Silabel
atau suku kata adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau
runtunan bunyi ujaran. Silabel biasanya meliputi satu vokal, atau satu vokal
dan satu konsonan atau lebih.
Silabel sebagai sataun ritmis
mempunyai puncak kenyaringan atau sonoritas yang biasanya jatuh pada sebuah
vokal. Kenyaringan atau resonansi berupa rongga mulut, rongga hidung, atau
rongga-rongga lain di dalam kepala dan dada.
Bunyi yang paling banyak menggunakan
ruang resonansi itu adalah bunyi vokal. Karena itulah yang disebut bunyi
silabis atau puncak selabis adalah bunyi vokal.
Menentukan batas silabel sebuah kata
kadang-kadang memang agak sukar karena penentuan batas itu bukan hanya soal
fonetik, tetapi juga soal fonemik, morfologi, dan ortografi. Misalnya kata
Indonesia /makan/, silabel adalah /ma/ dan /kan/.
A.
FONEMIK
Objek
kajian fonemik adalah fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi
membedakan makna kata. Dalam fonemik kita meneliti apakan bunyi itu mempunyai
fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Jika bunyi itu membedakan makna, maka
bunyi tersebut adalah fonem, jika tidak membedakan makna maka bukan fonem.
1. Identifikasi fonem
Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem / bukan kita
harus mencari sebuah satuan bahasa biasanya sebuah kata yang mengandung bunyi
tersebut. Lalu membandingkannya dengan satuan bahasa yang mirip dengan satuan
bahasa yang pertama. Kalau ternyata kedua satuan bahasa itu berbeda maknanya,
maka berarti bunyi tersebut adalah sebuah fonem karena dia bisa berfungsi
membedakan makna kedua satuan bahasa itu.
Misalnya
dalam kata bahasa Indonesia.
/Laba/
/Raba/
Kedua
kata itu mirip benar. Masing-masing terdiri dari 4 buah bunyi yang pertama
mempunyai bunyi /L/, /a/, /b/, /a/, dan yang kedua mempunyai bunyi /r/, /a/,
/b/ dan /a/.
Jika
kita bandingkan:
/L/ /a/ /b/ /a/
/R/ /a/ /b/ /a/
Ternyata perbedaannya hanya pada
bunyi yang pertama yaitu bunyi /L/ dan /r/ kesimpulannya bahwa bunyi /L/ dan
/r/ adalah dua buah fonem yang berbeda didalam bahasa Indonesia.
untuk
membuktikan sebuah fonem atau bukan harus mencari pasangan minimalnya.
Kendalanya kadang-kadang pasangan minimal ini tidak mempunyai jumlah bunyi yang
persis sama, misalnya “muda” dengan “mudah”. Ini merupakan pasangan minimal
sebab tiadanya bunyi /h/ pada kata pertama dan adanya bunyi /h/ pada kata kedua
menyebabkan kedua kat aitu berbeda-beda makna. Jadi bunyi /h/ adalah sebuah
fonem.
“Teras” dengan “Teras”
Identitas
sebuah fonem hanya berlaku dalam satu bahasa tertentu saja. Misalnya dalam
bahasa Indonesia kata bebek lafalnya [bεbεk] dan kata bebe
lafalnya [bebe]. Kedua kata tersebut termasuk dalam fonem yang sama sebab bebek
dan bebe bukan merupakan pasangan minimal.
2. Alofon
Alofon
adalah variasi fonem yang tidak membedakan bentuk dan arti kata. Alofon adalah
bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari fonem. Pendistribusian alofon terbagi
menjadi duayakni bersifat komplementer dan bersifat babas.
a.
Alofon vokal
Ø Alofon fonem /a/, yaitu
[a] jika terdapat pada semua posisi suku kata.
[aku]à/aku, [sabtu]à/sabtu/
[a] jika terdapat pada semua posisi suku kata.
[aku]à/aku, [sabtu]à/sabtu/
Ø Alofon fonem /i/, yaitu
[i] jika terdapat pada suku kata terbuka. Misalnya, [bibi]à /bibi/
[I] jika terdapat pada suku kata tertutup. Misalnya, [karIb]à /karib/
[Iy] palatalisasi jika diikuti oleh vokal [aou].à [kiyos]à /kios/
[ϊ] nasalisasi jika diikuti oleh nasal. [ϊndah]à /indah/
[i] jika terdapat pada suku kata terbuka. Misalnya, [bibi]à /bibi/
[I] jika terdapat pada suku kata tertutup. Misalnya, [karIb]à /karib/
[Iy] palatalisasi jika diikuti oleh vokal [aou].à [kiyos]à /kios/
[ϊ] nasalisasi jika diikuti oleh nasal. [ϊndah]à /indah/
Ø Alofon fonem /u/, yaitu
[u] jika terdapat pada posisi suku kata terbuka.
[aku]à/aku/, [buka]à/buka/
[U] jika terdapat pada suku kata tertutup.
[ampUn]à/ampun/, [kumpul]à/kumpul/
[uw] labialisasi jika diikuti oleh[I,e,a], [buwih]à/buih/, [kuwe]à/kue/
[u] jika terdapat pada posisi suku kata terbuka.
[aku]à/aku/, [buka]à/buka/
[U] jika terdapat pada suku kata tertutup.
[ampUn]à/ampun/, [kumpul]à/kumpul/
[uw] labialisasi jika diikuti oleh[I,e,a], [buwih]à/buih/, [kuwe]à/kue/
Ø Alofon fonem /ε/, yaitu
[e] jika terdapat pada suku kata terbuka dan tidak diikuti oleh suku kata yang
mengandung alofon [ε]. Misalnya, [sore]à /sore/
[ε] jika terdapat pada tempat-tempat lain. Misalnya, [pεsta]à/pesta/
[¶] jika terdapat pada posisi suku kata terbuka. [p¶ta]à/peta/
[¶] jika terdapat pada posisi suku kata tertutup. [sent¶r]à/senter/
[e] jika terdapat pada suku kata terbuka dan tidak diikuti oleh suku kata yang
mengandung alofon [ε]. Misalnya, [sore]à /sore/
[ε] jika terdapat pada tempat-tempat lain. Misalnya, [pεsta]à/pesta/
[¶] jika terdapat pada posisi suku kata terbuka. [p¶ta]à/peta/
[¶] jika terdapat pada posisi suku kata tertutup. [sent¶r]à/senter/
Ø Alofon fonem /o/, yaitu
[o] jika terdapat pada suku kata akhir terbuka. [soto]à/soto/
[É] jika terdapat pada posisi lain. [jeblÉs]à/jeblos/
[o] jika terdapat pada suku kata akhir terbuka. [soto]à/soto/
[É] jika terdapat pada posisi lain. [jeblÉs]à/jeblos/
b.
Alofon konsonan
Ø Fonem /c/
[c] bunyi lepas jika diikuti vocal.
[cari]à/cari/, [cacing]à/cacing/
[c] bunyi lepas jika diikuti vocal.
[cari]à/cari/, [cacing]à/cacing/
Ø Fonem /f/
[j] jika terdapat pada posisi sebelum dan sesudah vocal.
[fakir]à/fakir/, [fitri]à/fitri/
[j] jika terdapat pada posisi sebelum dan sesudah vocal.
[fakir]à/fakir/, [fitri]à/fitri/
Ø Fonem /g/
[g] bunyi lepas jika diikuti glottal.
[gagah]à/gagah/, [gula]à/gula/
[k>] bunyi hambat-velar-tak bersuara dan lepas jika terdapat di akhir kata.
[beduk>]à/bedug/,[gudek>]à/gudeg/
[g] bunyi lepas jika diikuti glottal.
[gagah]à/gagah/, [gula]à/gula/
[k>] bunyi hambat-velar-tak bersuara dan lepas jika terdapat di akhir kata.
[beduk>]à/bedug/,[gudek>]à/gudeg/
Ø Fonem /h/
[h] bunyi tak bersuara jika terdapat di awal dan akhir suku kata.
[hasil]à/hasil, [hujan]à/hujan/
[H] jika berada di tengah kata
[taHu]à/tahu/, [laHan]à/lahan/
[h] bunyi tak bersuara jika terdapat di awal dan akhir suku kata.
[hasil]à/hasil, [hujan]à/hujan/
[H] jika berada di tengah kata
[taHu]à/tahu/, [laHan]à/lahan/
Ø Fonem /j/
[j] bunyi lepas jika diikuti vocal.
[juga]à/juga/, [jadi]à/jadi/
[j] bunyi lepas jika diikuti vocal.
[juga]à/juga/, [jadi]à/jadi/
Ø Fonem /k/
[k] bunyi lepas jika terdapat pada awal suku kata.
[kala]à/kala/, [kelam]à/kelam/
[k>] bunyi tak lepas jika tedapat pada tengah kata dan diikuti konsonan lain.
[pak>sa]à/paksa/, [sik>sa]à/siksa/
[?] bunyi hambat glottal jika terdapat pada akhir kata.
[tida?]à/tidak/, [ana?]à/anak/
[k] bunyi lepas jika terdapat pada awal suku kata.
[kala]à/kala/, [kelam]à/kelam/
[k>] bunyi tak lepas jika tedapat pada tengah kata dan diikuti konsonan lain.
[pak>sa]à/paksa/, [sik>sa]à/siksa/
[?] bunyi hambat glottal jika terdapat pada akhir kata.
[tida?]à/tidak/, [ana?]à/anak/
Ø Fonem /l/
[l] berada di awal dan akhir suku kata.
[lama]à/lama/, [palsu]à/palsu/
[l] berada di awal dan akhir suku kata.
[lama]à/lama/, [palsu]à/palsu/
Ø Fonem /m/
[m] berada di awal dan akhir suku kata
[masuk]à/masuk/, [makan]à/makan/
[m] berada di awal dan akhir suku kata
[masuk]à/masuk/, [makan]à/makan/
Ø Fonem /n/
[n] berada di awal dan akhir suku kata.
[nakal]à/nakal/, [nasib]à/nasib/
[ň] berada di awal suku kata
[baňak]à/banyak/, [buňi]à/bunyi/
[n] berada di awal dan akhir suku kata.
[nakal]à/nakal/, [nasib]à/nasib/
[ň] berada di awal suku kata
[baňak]à/banyak/, [buňi]à/bunyi/
Ø Fonem /Ƞ/
[Ƞ] berada di awal dan akhir suku kata.
[Ƞarai]à/ngarai/, [paȠkal]à/pangkal/
[Ƞ] berada di awal dan akhir suku kata.
[Ƞarai]à/ngarai/, [paȠkal]à/pangkal/
Ø Fonem /p/
[p] bunyi konsonan hambat-bilabial-tak bersuara
[piker]à/piker/, [hapal]à/h
[p] bunyi konsonan hambat-bilabial-tak bersuara
[piker]à/piker/, [hapal]à/h
Ø Fonem /p/
[p] bunyi lepas jika diikuti vokal.
[pipi]à/pipi/, [sapi]à/sapi/
[p>] bunyi tak lepas jika terdapat pada suku kata tertutup.
[atap>]à/atap/, [balap>]à/balap/
[b] bunyi lepas jika diikuti oleh vocal.
[babi]à/babi/, [babu]à/babu/
[p>] bunyi taklepas jika terdapat pada suku kata tertutup, namun berubah lagi menjadi [b] jika diikuti lagi vokal.
[adap>]à/adab/, [jawap>]à/jawab/
apal/
[p] bunyi lepas jika diikuti vokal.
[pipi]à/pipi/, [sapi]à/sapi/
[p>] bunyi tak lepas jika terdapat pada suku kata tertutup.
[atap>]à/atap/, [balap>]à/balap/
[b] bunyi lepas jika diikuti oleh vocal.
[babi]à/babi/, [babu]à/babu/
[p>] bunyi taklepas jika terdapat pada suku kata tertutup, namun berubah lagi menjadi [b] jika diikuti lagi vokal.
[adap>]à/adab/, [jawap>]à/jawab/
apal/
Ø Fonem /r/
[r] berada di awal dan akhir suku kata, kadang-kadang bervariasi dengan bunyi getar uvular [R].
[raja] atau [Raja]à/raja/, [karya] atau [kaRya]à/karya/
[r] berada di awal dan akhir suku kata, kadang-kadang bervariasi dengan bunyi getar uvular [R].
[raja] atau [Raja]à/raja/, [karya] atau [kaRya]à/karya/
Ø Fonem /š/
[š] umumnya terdapat di awal dan akhir kata
[šarat]à/syarat/, [araš]à/arasy/
[š] umumnya terdapat di awal dan akhir kata
[šarat]à/syarat/, [araš]à/arasy/
Ø Fonem /t/
[t] bunyi lepas jika diikutu oleh vokal.
[tanam]à/tanam/, [tusuk]à/tusuk/
[t>] bunyi tak lepas jika terdapat pada suku kata tertutup.
[lompat>]à/lompat/,[sakit>]à/sakit/
[d] bunyi lepas jika diikuti vocal.
[duta]à/duta/, [dadu]à/dadu/
[t>] bunyi hambat-dental-tak bersuara dan tak lepas jika terdapat pada suku kata tertutup atau pada akhir kata.
[abat>]à/abad/,[murtat>]à/murtad/
[t] bunyi lepas jika diikutu oleh vokal.
[tanam]à/tanam/, [tusuk]à/tusuk/
[t>] bunyi tak lepas jika terdapat pada suku kata tertutup.
[lompat>]à/lompat/,[sakit>]à/sakit/
[d] bunyi lepas jika diikuti vocal.
[duta]à/duta/, [dadu]à/dadu/
[t>] bunyi hambat-dental-tak bersuara dan tak lepas jika terdapat pada suku kata tertutup atau pada akhir kata.
[abat>]à/abad/,[murtat>]à/murtad/
Ø Fonem /w/
[w] merupakan konsonan jika terdapat di awal suku kata dan semi vocal pada akhir suku kata.
[waktu]à/waktu/, [wujud]à/wujud/
[w] merupakan konsonan jika terdapat di awal suku kata dan semi vocal pada akhir suku kata.
[waktu]à/waktu/, [wujud]à/wujud/
Ø Fonem /x/
[x] berada di awal dan akhir suku kata.
[xas]à/khas/, [xusus]à/khusus/
[x] berada di awal dan akhir suku kata.
[xas]à/khas/, [xusus]à/khusus/
Ø Fonem /y/
[y] merupakan konsonan jika terdapat di awal suku kata dan semi vocal pada akhir suku kata.
[santay]à/santai/, [ramai]à/ramai/
[y] merupakan konsonan jika terdapat di awal suku kata dan semi vocal pada akhir suku kata.
[santay]à/santai/, [ramai]à/ramai/
Ø Fonem /z/
[z] [zat]à/zat/, [izin]-à/izin/
[z] [zat]à/zat/, [izin]-à/izin/
3. Klasifikasi fonem
Klasifikasi
fonem sama dengan klasifikasi bunyi dan unsur segmental. Ada bunyi vokal da
nada bunyi konsonan itu banyak sekali, maka fonem vokal dan fonem konsonan itu
agak terbatas, sebab hanya bunyi-bunyi yang dapat membedakan makna dan dapat
menajadikan fonem.
Fonem-fonem
yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem nonsegmental. Umpamanya dalam
bahasa batak toba kata tutu (dengan
tekanan pada suku kedua) berarti betul.
Dalam
bahasa-bahasa tonal (bahasa bernada) seperti bahasa Thailand, bahasa Burma, dan
bahasa mandarin, nada dapat membedakan makna. Misalnya, dalam bahasa mandarin kata yang berbunyi
/wai/ bila diberi nada datar berarti (kutu kayu) kalau diberi nada naik berarti
(bahaya). Kalau diberu nada turun kemudian naik berarti )menjawab dengan serta
merta). Dan bila diberi nada naik lalu turun berarti (takut).
4. Khazanah fonem
Khazanah
fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Berapa jumlah
fonem yng dimiliki suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki
bahasa lain. Jumlah fonem dalam bahasa Indonesia yaitu 24 buah, yang terdiri
dari 6 buah fonem vokal yakni (a, I, u, e, ₔ, dan o) dan 18 buah fonem konsonan
yakni ( p, t, c, k, b, d, j, g, m, n, n, Ƞ, s, h, r, l, w, dan y). ada juga
yang menghitug bahwa ada 28 buah yakni 4 fonem vokal yang berasal dari bahasa
asing yakni f, z, ∫, dan x. selain itu ada juga yang menghitung 31 buah yaitu
dngan menambahkan 3 buah fonem diftong [aw], [ay], [oy].
5. Perubahan fonem
1.
Asimilasi dan disimilasi
Yang
dimaksud dengan asimilasi yaitu pristiwa perubahan bunyi menjadi bunyi yang
lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi
menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang
mempengaruhinnya.
Contoh asimilasi:
Sabtu
dalam bahasa Indonesia lazim
disebutkan [saptu], dimana terlihat [b]
berubah menjadi [p] karena pengaruh [t].
Yang
dimaksuk disimilasi yaitu peristiwa perubahan bunyi yang menyababkan dua buah
fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan.
Contoh disimilasi:
Citta
yang berubah menjadi kata cipta dan cinta, kita lihat bunyi [tt] pada kata citta berubah menjadi bunyi [pt] pada kata cipta dan berubah menjadi bunyi [nt] pada kata cinta
2. Netralisasi dan arkifonem
Yang
dimaksud dengan netralisasi yaitu pristiwa perubahan bunyi yang menyebabkan
batalnya fungsi fonemik sebagai pembeda makna.
Contoh netralisasi :
Bunyi [lembab] dan [lembap], pada
hakekatnya bunyi ini memiliki makna yang sama. Kita lihat /b/ dan /p/ di sini
kehilangan fungsinya sebagai pembeda makna.
Yang
dimaksud dengan akrifonem yaitu satuan terkecil dalam kosakata yeng
menetralisasikan oposisi antara ciri-ciri makna beberapa leksem.
Contoh akrifonem :
Kata Jawab yang diucapkan
/jawap/ atau diucapkan /jawab/, tetapi bila diberi akhiran –an bentuknya menjadi jawaban.
Jadi, di sini ada /B/ yang realisasinya bisa menjadi /p/ atau /b/.
3. Umlaut, ablaut, dan harmonica vokal
umlaut
berasal dari bahasa Jerman yang berarti perubahan vokal sedemikian rupa
sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari
vokal yang berikutnya yang tinggi. Misalnya, dalam bahasa Belanda bunyi [a]
pada kata handje lebih tinggi kualitasnya dibandingkan dengan bunyi [a] pada
kata hand. Penyebabnya adalah bunyi [y] yang posisinya lebih tinggi dari bunyi
[a].
Ablaut
adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk
menandai berbagai fungsi gramatikal. Misalnya, dalam bahasa Inggris kata sing
berubah menjadi sang atau sung untuk penandaan kala.
harmonisasi
vokal adalah perubahan bunyi
atau keselarasan vokal. Misalnya kata amba ucapannya [o-mbo] artinya lebar
menjadi ambane lafalnya [a-mbane] artinnya ’lebarnya’ dan sega lafal [se-go]
artinya nasi menjadi segane lafalnya [s-gane].
4. Kontraksi
Yaitu menyingkat atau memperpendek
ujarannya.
Contoh:
tidak
tahu~ndak tahu
Itu
tadi~tu tadi
5. Metatesis dan epentesis
Metafisis
: Mengubah urutan fonem yang terdapat
disebuah kata (variasi).
Contoh: sapu, usap, apus ~ lajur,
jalur.
Epentesis
: sebuah fonem yang disisipkan pada
sebuah kata.
Contoh:
kampak, kapak. Akasa-angkasa. Upama-umpama.
6.
Fonem dan grafem
Fonem
adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna
kata. Untuk menempatkan sebuah bunyi yang berstatus fonem harus berupa dua buah
kata yang mirip, yang memiliki satu bunyi yang berbeda, sedangkan yang lainnya
sama.
Fonem
di anggap sebagai konsep abstrak, yang di dalam peraturan direalisasikan oleh
alofon, atau alofon-alofonnya sesuai dengan lingkungan tempat hadirnya fonem
tersebut. Fonem ditulis di antara tanda /…/ .
Contoh Fonem
/e/ dan /Ə/ dilambangkan <e>
/sate/ :
<sate>
/ide/ :
<ide>
/mƏnang/ : <menang>
/bƏrat/ : <berat>
Grafem adalah lambang huruf, grafem merujuk ke huruf atau gabungan
huruf sebagai satuan pelambang fonem di dalam satu ejaan.
Contoh:
kata tanggal terdiri dari tujuh huruf, yaitu t-a-n-g-g-a-l,
tetapi grafemnya hanya enam, yaitu <t>, <a>, <ng>, <g>,
<a>, <l>.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Fonologi adalah cabang ilmu bahasa (linguistik) yang
mengkaji bunyi-bunyi bahasa, proses terbentuknya dan perubahannya. Fonologi
mengkaji bunyi bahasa secara umum dan fungsional.
Istilah fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa
terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk
membedakan makna. Varian fonem berdasarkan posisi dalam kata, misal fonem
pertama pada kata makan dan makna secara fonetis berbeda. Variasi suatu fonem
yang tidak membedakan arti dinamakan alofon.
Kajian fonetik terbagi atas klasifikasi bunyi yang
kebanyakan bunyi bahasa Indonesia merupakan bunyi egresif. Dan yang kedua
pembentukan vokal, konsonan, diftong, dan kluster.
Dalam hal kajian fonetik, perlu adanya fonemisasi yang
ditujukan untuk menemukan bunyi-bunyi yang berfungsi dalam rangka pembedaan
makna tersebut.
B.
SARAN
Adapun saran yang dapat penulis
sampaikan yaitu kita sebagai calon pendidik, harus selalu menggali potensi yang
ada pada diri kita. Cara menggali potensi dapat dilakukan salah satunya dengan
cara mempelajari makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat untuk
kita ke depannya. Amiin.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul, chaer. 2007. Linguistik umum. Jakarta, Rineka cipta
http://shoitara-uciha.blogspot.co.id/2014/04/makalah-fonologi.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar